Pada kesempatan sebelumnya saya telah menyampaikan langkah-langkah konfigurasi DNS Server pada Ubuntu 10.04. Pada kesempatan kali ini saya juga akan memberikan contoh praktikum konfigurasi DNS Server yang masih menggunakan package 'bind' namun pada sistem operasi Arch Linux.
Pada praktek kali ini saya masih menggunakan topologi peer-to-peer untuk mesin DNS Server dengan mesin client. Pada mesin DNS Server saya menggunakan sistem operasi Arch Linux, sedangkan pada mesin Client saya menggunakan sistem operasi Ubuntu. Berikut adalah topologi dan skema pengalamatan yang saya gunakan pada praktek kali ini :
Sebelum melakukan konfigurasi, hal pertama yang perlu dilakukan adalah melakukan instalasi package bind pada mesin DNS Server yang menggunakan sistem operasi Arch Linux. Untuk pengistalan, gunakan perintah
Tampilkan postingan dengan label Instalasi LAN. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Instalasi LAN. Tampilkan semua postingan
Selasa, 03 Juli 2012
Konfigurasi DNS Server pada Ubuntu 10.04
Pada kesempatan sebelumnya saya telah menyampaikan pendahuluan mengenai Domain Name System atau yang biasa disebut DNS Server. Pada kesempatan kali ini saya akan menyampaikan materi mengenai konfigurasi DNS yang akan dilakukan pada sistem operasi Ubuntu 10.04.
Sebelum melakukan konfigurasi, saya akan menjelaskan sedikit mengenai topologi yang akan digunakan dalam konfigurasi ini. Dalam hal ini saya menggunakan topologi peer-to-peer. Ada 2 buah mesin / PC yang digunakan, dimana 1 mesin akan digunakan sebagai DNS Server dan mesin yang lainnya dijadikan sebagai Client yang akan menguji keberhasilan dari praktikum.
Untuk pengalamatan (addressing), saya menggunakan IP Address kelas B dengan network 172.16.0.0/16 dimana mesin DNS Server menggunakan IP 172.16.0.1 dan PC Client menggunakan IP 172.16.0.2. Untuk lebih jelasnya, berikut adalah topologi dan skema addressing yang saya gunakan :
Sebagai informasi opsional, dalam hal ini saya menggunakan sistem operasi Ubuntu 10.04 pada PC client. Jika anda akan melakukan praktek ini, anda dapat menggunakan sistem operasi lain pada client.
Sebelum melakukan konfigurasi, saya akan menjelaskan sedikit mengenai topologi yang akan digunakan dalam konfigurasi ini. Dalam hal ini saya menggunakan topologi peer-to-peer. Ada 2 buah mesin / PC yang digunakan, dimana 1 mesin akan digunakan sebagai DNS Server dan mesin yang lainnya dijadikan sebagai Client yang akan menguji keberhasilan dari praktikum.
Untuk pengalamatan (addressing), saya menggunakan IP Address kelas B dengan network 172.16.0.0/16 dimana mesin DNS Server menggunakan IP 172.16.0.1 dan PC Client menggunakan IP 172.16.0.2. Untuk lebih jelasnya, berikut adalah topologi dan skema addressing yang saya gunakan :
Sebagai informasi opsional, dalam hal ini saya menggunakan sistem operasi Ubuntu 10.04 pada PC client. Jika anda akan melakukan praktek ini, anda dapat menggunakan sistem operasi lain pada client.
Sabtu, 16 Juni 2012
DNS (Domain Name Server)
Sistem pengalamatan yang digunakan dalam jaringan komputer umumnya direpresentasikan dalam bentuk angka numerik yang kita kenal sebagai IP Address. 2 buah komputer atau lebih dapat melakukan komunikasi jika keduanya sudah diidentifikasikan oleh sebuah IP Address yang dimiliki oleh masing-masing komputer. Jika komputer sudah memiliki IP address, maka komputer lain dapat "memanggil" komputer tersebut dengan menggunakan IP yang dimiliki oleh komputer tujuan. Selain itu sebuah komputer juga dapat melakukan sharing file dengan komputer lain jika kedua komputer tersebut terhubung dengan IP address (yang se-network).
IP address adalah sistem pengalamatan yang dapat dilakukan oleh mesin atau sistem dari PC tersebut, namun tidak user friendly bagi penggunanya. Dapat anda bayangkan jika anda memiliki sebuah jaringan yang besar, dan anda dibebankan oleh kegiatan-kegiatan komunikasi antar komputer dalam jaringan tersebut, tentu akan tidak efektif jika anda harus menghafal alamat IP yang dimiliki oleh tiap komputer dalam jaringan tersebut. Dapat dibayangkan jika network administrator harus menghafalkan alamat IP tiap komputer dalam jaringan besar (dengan 500 komputer misalnya). Untuk memudahkan keperluan tersebut, muncul sebuah aplikasi yang bernama DNS.
DNS (Domain Name Server) adalah sebuah utility untuk menerjemahkan / memetakan sistem pengalamatan IP address ke sebuah nama komputer (hostname). Adapula definisi lain yang menyebutkan bahwa DNS adalah distribute database system yang digunakan untuk
IP address adalah sistem pengalamatan yang dapat dilakukan oleh mesin atau sistem dari PC tersebut, namun tidak user friendly bagi penggunanya. Dapat anda bayangkan jika anda memiliki sebuah jaringan yang besar, dan anda dibebankan oleh kegiatan-kegiatan komunikasi antar komputer dalam jaringan tersebut, tentu akan tidak efektif jika anda harus menghafal alamat IP yang dimiliki oleh tiap komputer dalam jaringan tersebut. Dapat dibayangkan jika network administrator harus menghafalkan alamat IP tiap komputer dalam jaringan besar (dengan 500 komputer misalnya). Untuk memudahkan keperluan tersebut, muncul sebuah aplikasi yang bernama DNS.
DNS (Domain Name Server) adalah sebuah utility untuk menerjemahkan / memetakan sistem pengalamatan IP address ke sebuah nama komputer (hostname). Adapula definisi lain yang menyebutkan bahwa DNS adalah distribute database system yang digunakan untuk
Konfigurasi Samba pada Ubuntu 10.04
Pada postingan sebelumnya saya telah menyampaikan mengenai pendahuluan Samba dan protokolnya yaitu SMB (Server Message Block). Pada kesempatan kali ini saya akan menyampaikan mengenai langkah-langkah konfigurasi Samba Server pada sistem operasi Ubuntu 10.04 dengan 2 konsep yaitu write-able dan juga read only. Sedangkan untuk client saya menggunakan sistem operasi Windows XP. Kedua sistem tersebut berada pada 2 PC / Portable PC yang berbeda.
Langkah awal yang perlu dilakukan adalah menginstalkan package samba pada sistem operasi Ubuntu 10.04 dengan menggunakan perintah apt-get install samba (sistem harus terkoneksi ke repository terlebih dahulu). Setelah terinstal, lakukan langkah-langkah konfigurasi seperti berikut :
Langkah awal yang perlu dilakukan adalah menginstalkan package samba pada sistem operasi Ubuntu 10.04 dengan menggunakan perintah apt-get install samba (sistem harus terkoneksi ke repository terlebih dahulu). Setelah terinstal, lakukan langkah-langkah konfigurasi seperti berikut :
- Hubungkan 2 PC / Portable PC yang digunakan dengan menggunakan sebuah kabel UTP atau kabel jaringan apapun yang memungkinkan.
- Setelah terhubung, lakukan konfigurasi pengalamatan / addressing. Sebagai contoh, saya menggunakan skema IP Address seperti berikut :
- Ubuntu 10.04 : 172.16.16.32/26
- Windows XP : 172.16.16.30/26
- Setelah konfigurasi addressing selesai, maka langkah selanjutnya adalah melakukan konfigurasi pada file smb.conf. Namun sebelum melakukan konfigurasi, pastikan anda melakukan
Samba Server
Sebelum membahas mengenai Samba, ada baiknya kita mengetahui dahulu tentang SMB. SMB (Server Message Block) merupakan protokol standar yang dibuat oleh Microsoft yang digunakan pada sistem Windows. Fungsi SMB dalam Windows adalah sebagai protokol yang digunakan untuk membagi data (sharing file), baik dari perangkat CD-ROM, harddisk, maupun perangkat output seperti printer dan plotter untuk dapat digunakan bersama-sama.
Untuk keperluan yang sama, Linux juga mengembangkan sebuah program yang mempunyai fungsi yang sama seperti SMB pada Windows, yaitu Samba. Samba merupakan merupakan package yang berjalan pada sistem Linux yang mampu menerapkan protokol SMB pada platform Linux. Samba mampu bertindak sebagai jembatan yang menghubungkan dua komputer yang menggunakan
Untuk keperluan yang sama, Linux juga mengembangkan sebuah program yang mempunyai fungsi yang sama seperti SMB pada Windows, yaitu Samba. Samba merupakan merupakan package yang berjalan pada sistem Linux yang mampu menerapkan protokol SMB pada platform Linux. Samba mampu bertindak sebagai jembatan yang menghubungkan dua komputer yang menggunakan
Minggu, 06 Mei 2012
Jaringan Voice (Voice over Internet Protocol / VoIP)
Jaringan voice adalah jaringan komputer dengan data yang berupa suara (voice). Dalam dunia jaringan komputer ada sebuah aplikasi ternama yang mengirimkan data berupa suara, tidak lain dan tidak bukan itu adalah Voice over Internet Protocol atau yang terkenal dengan sebutan VoIP.
Voice over Internet Protocol (VoIP) atau yang juga disebut IP Telephony / Internet Telephony / Digital Phone adalah teknologi yang memungkinkan percakapan suara jarak jauh melalui media internet. Data suara diubah menjadi kode digital dan dialirkan melalui jaringan yang mengirimkan paket-paket data, dan bukan lewat sirkuit analog telepon biasa. Definisi VoIP adalah suara yang dikirim melalui Protokol Internet (Internet Protocol / IP).
Berbeda dengan telepon analog, VoIP yang merupakan implementasi dari telepon digital memiliki beberapa keunggulan, namum di balik semua itu, tentu ada juga kelemahan yang ada pada VoIP. Berikut adalah beberapa keunggulan dan kekurangan dari VoIP.
Keunggulan VoIP antara lain :
Voice over Internet Protocol (VoIP) atau yang juga disebut IP Telephony / Internet Telephony / Digital Phone adalah teknologi yang memungkinkan percakapan suara jarak jauh melalui media internet. Data suara diubah menjadi kode digital dan dialirkan melalui jaringan yang mengirimkan paket-paket data, dan bukan lewat sirkuit analog telepon biasa. Definisi VoIP adalah suara yang dikirim melalui Protokol Internet (Internet Protocol / IP).
Berbeda dengan telepon analog, VoIP yang merupakan implementasi dari telepon digital memiliki beberapa keunggulan, namum di balik semua itu, tentu ada juga kelemahan yang ada pada VoIP. Berikut adalah beberapa keunggulan dan kekurangan dari VoIP.
Keunggulan VoIP antara lain :
- Biaya lebih rendah untuk dua tempat yang jaraknya jauh. Jika kedua tempat tersebut terhubung ke internet, maka VoIP dapat diimplementasikan. Hubungan antara SLI dengan SLJJ dapat ditekan hingga 70%.
- Memanfaatkan infrastruktur jaringan data yang sudah ada untuk suara. Jika memungkinkan, jaringan yang sudah ada bisa dibangun tambahan jaringan VoIP dengan mudah. Tidak diperlukan tambahan biaya bulanan untuk
Rabu, 14 Maret 2012
Konfigurasi DHCP Server (pada Ubuntu)
Setelah sebelumnya saya membahas mengenai definisi dan keterangan lain mengenai DHCP, maka pada kesempatan ini saya akan menjelaskan mengenai cara konfigurasi DHCP Server pada sistem operasi Linux Ubuntu.
Untuk menjadikan sebuah PC dengan OS Linux Ubuntu (versi desktop maupun server) sebagai DHCP Server, maka pada sistem tersebut harus tersedia package dhcp3-server. Sebelum membuat setting DHCP Server, download terlebih dahulu package tersebut di situs pkgs.org kemudian installkan pada sistem anda. Untuk melakukan penginstalan yang lebih mudah, buka terminal (pada Ubuntu desktop) terlebih dahulu lalu ketikkan perintah apt-get install dhcp3-server.
Sebelum melakukan konfigurasi, biasakan diri anda untuk mem-backup data yang akan digunakan untuk konfigurasi DHCP Server. Untuk pembuatan DHCP Server, ada 2 file yang akan di-edit yaitu file /etc/default/dhcp3-server dan juga file /etc/dhcp3/dhcpd.conf. Untuk memback-up kedua file tersebut, gunakan perintah berikut :
Pada posting sebelumnya saya telah menyampaikan bahwa dalam DHCP ada 2 metoda yaitu Address Pool (pemberian dynamic address) dan juga metoda penggunaan MAC Address (pemberian static address). Pertama-tama saya akan menjelaskan langkah-langkah penggunaan
Untuk menjadikan sebuah PC dengan OS Linux Ubuntu (versi desktop maupun server) sebagai DHCP Server, maka pada sistem tersebut harus tersedia package dhcp3-server. Sebelum membuat setting DHCP Server, download terlebih dahulu package tersebut di situs pkgs.org kemudian installkan pada sistem anda. Untuk melakukan penginstalan yang lebih mudah, buka terminal (pada Ubuntu desktop) terlebih dahulu lalu ketikkan perintah apt-get install dhcp3-server.
Sebelum melakukan konfigurasi, biasakan diri anda untuk mem-backup data yang akan digunakan untuk konfigurasi DHCP Server. Untuk pembuatan DHCP Server, ada 2 file yang akan di-edit yaitu file /etc/default/dhcp3-server dan juga file /etc/dhcp3/dhcpd.conf. Untuk memback-up kedua file tersebut, gunakan perintah berikut :
- cp /etc/default/dhcp3-server /etc/default/dhcp3-server_backup
- cp /etc/dhcp3/dhcpd.conf /etc/dhcp3/dhcpd.conf_backup
Pada posting sebelumnya saya telah menyampaikan bahwa dalam DHCP ada 2 metoda yaitu Address Pool (pemberian dynamic address) dan juga metoda penggunaan MAC Address (pemberian static address). Pertama-tama saya akan menjelaskan langkah-langkah penggunaan
DHCP (Dynamic Host Configuration Protocol)
Dynamic Host Configuration Protocol (DHCP) adalah suatu protokol dalam TCP/IP yang secara otomatis memberikan alamat IP pada dynamic client yang memintanya. Selain IP address, DHPC Server juga memberikan konfigurasi lain seperti masking, default gateway, DNS Server, dll. Komputer yang memberikan alamat IP disebut DHCP Server, sedangkan komputer yang meminta alamat IP disebut DHCP Client.
Dalam jaringan yang besar, melakukan pengaturan addressing secara manual akan sangat tidak efektif dan rentan kesalahan. Dengan menggunakan DHCP, pengalamatan akan lebih efektif dan mudah serta dapat meminimalisir kesalahan. Dengan demikian seorang admin jaringan dapat melakukan pengaturan pengalamatan pada jaringan yang dia desain tanpa harus mengkonfigurasi PC satu-per-satu.
Dalam proses permintaan dan pemberian addressing antara DHCP Server dengan DHCP Client ada beberapa tahapan yang perlu dilakukan keduanya. Tahap-tahap tersebut adalah sebagai berikut :
Ada 2 jenis IP address yang dapat disewakan oleh DHCP Server, yaitu dynamic address dan ada juga static address.
Dynamic Address yaitu alamat yang disewakan dengan rentang waktu tertentu sehingga jika pada saat tertentu client mengalami reboot atau restart, maka address yang disewakan sebelumnya tidak berlaku lagi. Saat client hendak meminta address lagi, maka ada kemungkinan address yang di terima adalah IP yang berbeda dari IP yang disewa sebelumnya, namun tidak menutup kemungkinan client tersebut mendapat IP address yang sama dengan yang disewa sebelumnya. Proses pemberian dynamic address ini disebut dengan Address Pool.
Selain dapat memberikan dynamic address, DHCP Server juga dapat memberikan Static Address. Ada beberapa device dalam jaringan komputer yang memang memerlukan IP address yang tetap atau tidak berubah seperti router, printer yang di-share, dll. Pada router biasanya ada setting-an routing pada address yang berbeda network sehingga jika router tersebut mendapat IP address yang selalu berubah akan membuat proses routing menjadi kacau. DHCP Server memiliki fitur untuk mengatasi hal tersebut yaitu dengan mengkonfigurasi specific address untuk MAC address tertentu. Dalam hal ini DHCP Server akan memberikan satu address yang tetap pada device-device yang memang memerlukan static address kapanpun device tersebut memintanya. Untuk dapat melakukannya, DHCP Server memerlukan informasi berupa MAC address dari device yang memerlukan static address.
Dalam jaringan yang besar, melakukan pengaturan addressing secara manual akan sangat tidak efektif dan rentan kesalahan. Dengan menggunakan DHCP, pengalamatan akan lebih efektif dan mudah serta dapat meminimalisir kesalahan. Dengan demikian seorang admin jaringan dapat melakukan pengaturan pengalamatan pada jaringan yang dia desain tanpa harus mengkonfigurasi PC satu-per-satu.
Dalam proses permintaan dan pemberian addressing antara DHCP Server dengan DHCP Client ada beberapa tahapan yang perlu dilakukan keduanya. Tahap-tahap tersebut adalah sebagai berikut :
- DHCPDISCOVER / IP LEAST REQUEST
Client akan mem-broadcast request untuk mencari DHCP Server yang aktif. - DHCPOFFER / IP LEAST OFFER
DHCP Server mendengar request dan menawarkan suatu alamat.
- DHCPREQUEST / IP LEAST SELECTION
Client memilih salah satu IP address dan menyewa IP tersebut dengan kembali mem-broadcast sebuah message yang berisi persetujuan untuk menyewa IP yang ditawarkan.
- DHCPACK / IP LEAST ACKNOWLEDGE
DHCP server merespon permintaan dan mengirim paket acknowledgement yang berisi paket alamat (IP, masking, default gateway, DNS, dll). Client akan melakukan pengikatan (binding) pada alamat yang diberikan.
Ada 2 jenis IP address yang dapat disewakan oleh DHCP Server, yaitu dynamic address dan ada juga static address.
Dynamic Address yaitu alamat yang disewakan dengan rentang waktu tertentu sehingga jika pada saat tertentu client mengalami reboot atau restart, maka address yang disewakan sebelumnya tidak berlaku lagi. Saat client hendak meminta address lagi, maka ada kemungkinan address yang di terima adalah IP yang berbeda dari IP yang disewa sebelumnya, namun tidak menutup kemungkinan client tersebut mendapat IP address yang sama dengan yang disewa sebelumnya. Proses pemberian dynamic address ini disebut dengan Address Pool.
Selain dapat memberikan dynamic address, DHCP Server juga dapat memberikan Static Address. Ada beberapa device dalam jaringan komputer yang memang memerlukan IP address yang tetap atau tidak berubah seperti router, printer yang di-share, dll. Pada router biasanya ada setting-an routing pada address yang berbeda network sehingga jika router tersebut mendapat IP address yang selalu berubah akan membuat proses routing menjadi kacau. DHCP Server memiliki fitur untuk mengatasi hal tersebut yaitu dengan mengkonfigurasi specific address untuk MAC address tertentu. Dalam hal ini DHCP Server akan memberikan satu address yang tetap pada device-device yang memang memerlukan static address kapanpun device tersebut memintanya. Untuk dapat melakukannya, DHCP Server memerlukan informasi berupa MAC address dari device yang memerlukan static address.
Wireless Security (Access Point Linksys WRT54G2)
Setelah pada kesempatan sebelumnya saya membahas mengenai penerapan keamanan jaringan wireless menggunakan access point TP-Link TL-WA701N, pada kesempatan kali ini saya akan menyampaikan tutorial penggunaan sistem keamanan jaringan wireless dengan menggunakan access point dari Cisco yaitu Linksys WRT54G2.
Untuk kali ini saya hanya akan membahas mengenai cara penggunaan wireless security pada access point Linksys WRT54G2. Karena materi mengenai konfigurasi access point Linksys WRT54G2 sudah saya post, maka untuk kali ini diasumsikan bahwa konfigurasi jaringan wireless (seperti SSID, addressing, dan pengaturan lainnya) telah dibuat sebelumnya. Sistem keamanan jaringan wireless yang akan dibahas kali ini adalah WEP, WPA, dan MAC Filtering.
————————————————————————————————————
WEP (WIRED EQUIVALENT PRIVACY)
Penggunaan WEP pada access point Linksys WRT54G2 tidak terlalu rumit seperti pada access point TP-Link TL-WA701N. Untuk mengkonfigurasi wireless security WEP pada access point Linksys WRT54G2 dapat dilakukan dengan cara-cara berikut :
Untuk kali ini saya hanya akan membahas mengenai cara penggunaan wireless security pada access point Linksys WRT54G2. Karena materi mengenai konfigurasi access point Linksys WRT54G2 sudah saya post, maka untuk kali ini diasumsikan bahwa konfigurasi jaringan wireless (seperti SSID, addressing, dan pengaturan lainnya) telah dibuat sebelumnya. Sistem keamanan jaringan wireless yang akan dibahas kali ini adalah WEP, WPA, dan MAC Filtering.
————————————————————————————————————
WEP (WIRED EQUIVALENT PRIVACY)
Penggunaan WEP pada access point Linksys WRT54G2 tidak terlalu rumit seperti pada access point TP-Link TL-WA701N. Untuk mengkonfigurasi wireless security WEP pada access point Linksys WRT54G2 dapat dilakukan dengan cara-cara berikut :
- Klik tab "Wireless" pada bagian atas web browser, setelah itu pilih sub-tab "Wireless Security".
- Kemudian akan muncul form untuk mengkonfigurasi sistem keamanan jaringan yang akan digunakan. Pada bagian "Security Mode", pilih WEP. Kemudian pada bagian "WEP Encryption" pilih sesuai kebutuhan anda, sesuaikan dengan jumlah karakter yang akan anda gunakan untuk key (password) keamanan. Dalam hal ini saya menggunakan 64 bits 10 hex digits.
- Pada bagian "Passphrase", inputkan key atau password yang anda inginkan, setelah itu klik
Wireless Security (Access Point TP-Link TL-WA701N)
Setelah membahas mengenai cara mengkonfigurasi access point TP-Link bersaudara (TL-WA501G dan TL-WA701N), dapat saya simpulkan bahwa pengkonfigurasian kedua access point tersebut tidaklah jauh berbeda. Yang membedakan hanyalah tampilan dari halaman web yang digunakan untuk mengkonfigurasi access point saja.
Pada kesempatan kali ini saya akan menjelaskan mengenai tutorial penggunaan wireless security pada access point TP-Link TL-WA701N. Karena pada postingan sebelumnya saya sudah membahas mengenai definisi tiap wireless security, maka pada kesempatan ini saya akan membahas cara membuatnya saja.
Hal pertama yang dilakukan adalah mengkonfigurasi rule atau aturan yang akan digunakan pada jaringan wireless yang akan dibuat. Semua komponen yang diperlukan untuk membuat jaringan wireless (penggunaan IP, DHCP, SSID, dll) sudah saya jelaskan pada posting sebelumnya. Dan kali ini kita asumsikan bahwa semua komponen tersebut sudah
Pada kesempatan kali ini saya akan menjelaskan mengenai tutorial penggunaan wireless security pada access point TP-Link TL-WA701N. Karena pada postingan sebelumnya saya sudah membahas mengenai definisi tiap wireless security, maka pada kesempatan ini saya akan membahas cara membuatnya saja.
Hal pertama yang dilakukan adalah mengkonfigurasi rule atau aturan yang akan digunakan pada jaringan wireless yang akan dibuat. Semua komponen yang diperlukan untuk membuat jaringan wireless (penggunaan IP, DHCP, SSID, dll) sudah saya jelaskan pada posting sebelumnya. Dan kali ini kita asumsikan bahwa semua komponen tersebut sudah
Wireless Security
Jaringan wireless adalah jaringan dengan topologi terbuka sehingga memungkinkan user manapun untuk dapat mengakses jaringan tersebut. Teknologi wireless network (jaringan tanpa kabel / nirkabel) pun saat ini sudah sangat berkembang dengan pesat, terutama dengan hadirnya perangkat teknologi informasi dan komunikasi portable yang sudah sangat pintar dan praktis untuk dibawa kemana-mana. Portable PC (laptop / netbook), tablet PC, smartphone, dan juga perangkat-perangkat canggih lainnya merupakan contoh-contoh peripheral praktis yang dapat digunakan untuk mengakses jaringan network. Selain itu, kemudahan seseorang untuk dapat mengakses jaringan wireless di tempat-tempat umum juga menjadi alasan kuat yang menjadikan jaringan wireless (wi-fi / hotspot) banyak digemari.
Karena sifat jaringan wireless yang terbuka, dapat memungkinkan jaringan tersebut terkena serangan hacker. Hal ini tentu harus dijadikan perhatian untuk para admin jaringan wireless. Perlu adanya keamanan jaringan wireless untuk
Karena sifat jaringan wireless yang terbuka, dapat memungkinkan jaringan tersebut terkena serangan hacker. Hal ini tentu harus dijadikan perhatian untuk para admin jaringan wireless. Perlu adanya keamanan jaringan wireless untuk
Jumat, 03 Februari 2012
Konfigurasi Access Point Linksys WRT54G2 V1
Pada materi kali ini saya akan membahas mengenai cara mengkonfigurasi access point Linksys WRT54G2 V1 yang merupakan access point dari Cisco. Alat dan bahan yang diperlukan dalam mengkonfigurasi access point jenis ini adalah sebagai berikut :
- Access point Linksys WRT54G2 v1
- 1 unit laptop atau PC untuk mengkonfigurasi access point
- Kabel UTP dengan konfigurasi straight (untuk penjelasan mengenai konfigurasi kabel UTP, klik disini)
- Samakan network IP pada laptop dengan access point sehingga berada pada satu network. Secara default, IP dari access point jenis ini adalah 192.168.1.1. Untuk menyamakan network address dari access point dan laptop, ubah IP laptop menjadi 192.168.1.2.
- Setelah IP diubah, nyalakan access point. Jangan lupa periksa adaptor yang akan digunakan untuk menyalakan access point, apakah voltage-nya sesuai dengan kebutuhan daya access point atau tidak.
- Setelah access point dinyalakan, sambungkan laptop dengan access point menggunakan kabel UTP straight.
- Buka web browser pada laptop kemudian
Konfigurasi Access Point SMC WEBGT
Setalah membahas mengenai cara mengkonfigurasi access point TP-Link bersaudara (TL-WA501G dan TL-WA701ND), maka kali ini saya akan membahas mengenai langkah-langkah mengkonfigurasi access point SMC WEBTG. Access point ini adalah access point yang cukup "jadul". Salah satu perbedaan dari access point ini dengan access point yang lain, yaitu tidak adanya fitur DHCP yang dapat digunakan dalam access point ini. Oleh karena itu jika sebuah device ingin mengkoneksikan diri ke sebuah jaringan wireless yang menggunakan access point ini harus mengatur IP address pribadi secara manual pada device yang bersangkutan.
Untuk mengkonfigurasikan access point ini, kita membutuhkan alat dan bahan sebagai berikut :
Untuk mengkonfigurasikan access point ini, kita membutuhkan alat dan bahan sebagai berikut :
- Sebuah access point SMC WEBTG.
- Laptop atau PC untuk mengkonfigurasi AP.
- Kabel UTP dengan konfigurasi straight (untuk penjelasan mengenai konfigurasi kabel UTP, klik disini).
- Seperti biasa, laptop yang digunakan untuk mengkonfigurasi AP harus memiliki IP yang se-network dengan IP access point. Secara default, IP pada access point SMC adalah 192.168.2.25, maka anda dapat menggunakan IP 192.168.2.24 atau IP lainnya yang se-network.
- Setelah IP laptop terubah, nyalakan access point. Saya ingatkan kembali untuk memastikan adaptor yang digunakan memiliki output voltage yang sesuai dengan kebutuhan daya access point-nya. Pasang adaptor ke access point, kemudian
Rabu, 01 Februari 2012
Konfigurasi Access Point TP-Link WA-701ND
Pada postingan sebelumnya saya telah membahas mengenai langkah-langkah mengkonfigurasi access point TP-Link TL-WA501G. Dan pada postingan kali ini saya akan membahas langkah-langkah mengkonfigurasikan adik dari access point TP-Link TL-WA501G, yaitu access point TP-Link TL-WA701ND. Langkah-langkahnya tidak jauh berbeda, hanya saja tampilan interface pada web browser yang berbeda.
Alat dan bahan yang diperlukan dalam melakukan konfigurasi ini antara lain :
Alat dan bahan yang diperlukan dalam melakukan konfigurasi ini antara lain :
- Access point TP-Link TL-WA701ND
- 1 unit Laptop atau PC
- Kabel UTP dengan konfigurasi straight (untuk penjelasan mengenai konfigurasi kabel UTP, klik disini)
- Sama seperti mengkonfigurasikan access point lainnya, langkah awal yang perlu dilakukan adalah menyamakan address antara access point dengan sebuah laptop sehingga alamatnya berada pada satu network. Secara default, IP yang tertera pada label access point jenis ini adalah 192.168.1.1, maka anda dapat mengganti IP laptop anda dengan IP 192.168.1.xxx (x tidak boleh angka 1) dan netmask 255.255.255.0.
- Setelah itu, nyalakan access point. Perhatikan adaptor yang digunakan, apakah voltage-nya sesuai dengan
Konfigurasi Access Point TP-Link WA-501G
Dalam materi kali ini saya akan membahas mengenai cara mengkonfigurasi access point TP-Link dengan tipe TL-WA501G. Alat dan bahan yang diperlukan adalah sebagai berikut :
- Access Point TP-Link TL-WA501G.
- Kabel UTP dengan konfigurasi straight (untuk penjelasan mengenai konfigurasi kabel UTP, klik disini).
- Sebuah PC atau laptop.
- Lihat keterangan alamat IP yang tersedia pada Access Point (biasanya ada pada label access point). Untuk access point TL-WA501G menggunakan IP address 192.168.1.1.
- Ubah IP address pada laptop yang akan digunakan untuk mengkonfigurasi access point sehingga menjadi se-network dengan IP pada access point. Dalam hal ini saya menggunakan alamat IP 192.168.1.2 dengan netmask 255.255.255.0 pada laptop.
- Hubungkan power line pada access point sehingga access point aktif (menyala). Sebelum menyalakan access point, pastikan voltage pada adaptor dengan access point sesuai.
- Kemudian hubungkan access point dengan laptop menggunakan
Jumat, 06 Januari 2012
Wiring (Pengkabelan)
Wiring yaitu teknik yang digunakan oleh designer jaringan tentang bagaimana pengkabelan dari jaringan tersebut akan dibuat. Seorang perancang jaringan tentu harus menguasai materi ini karena hal ini akan berhubungan dengan efisiensi jaringan dan juga tampilan dari jaringan itu sendiri mulai dari kerapihannya, penataannya, dll.
Dalam pembahasan kali ini akan dibahas mengenai komponen-komponen jaringan yang digunakan untuk melakukan penempatan kabel dalam jaringan. Berikut adalah penjelasan singkat mengenai komponen-komponen pendukung dalam penggunaak media transmisi jaringan.
CONDUIT
Conduit yaitu sistem perpipaan yang digunakan untuk
Dalam pembahasan kali ini akan dibahas mengenai komponen-komponen jaringan yang digunakan untuk melakukan penempatan kabel dalam jaringan. Berikut adalah penjelasan singkat mengenai komponen-komponen pendukung dalam penggunaak media transmisi jaringan.
CONDUIT
Conduit yaitu sistem perpipaan yang digunakan untuk
Selasa, 27 Desember 2011
Unguided Media Transmisi
Un-guided media yaitu media transmisi yang tidak terlihat oleh mata, namun dapat dirasakan manfaatnya. Beberapa contoh media ini yaitu sinyal dan gelombang elektromagnetik. Ada beberapa materi yang perlu dipahami mengenai media tanpa bentuk fisik ini. Diantaranya adalah radiowave, microwave, infrared, FHSS, DSSS, standarisasi wireless 802.11, standarisasi wireless 802.16, dan juga topologi wireless. Hal-hal tersebut akan sangat berkaitan dengan perencanaan jaringan tanpa kabel.
Radio Wave, yaitu sinyal wireless yang bekerja pada frekuensi 10 KHz - 1 GHz (radio frekuensi). Sinyal ini bekerja dengan metoda multicast (broadcast termasuk didalamnya) atau dengan skema one to many ataupun point to multipoint. Keuntungan dari menggunakan radiowave adalah tidak berkabel (tentunya), murah, dan fleksibel. Namun adapula kekurangannya yaitu adanya kemungkinan pencurian data, noise, kemudian range yang terbatas dibanding media wireless lainnya.
Micro Wave, yaitu sinyal yang bekerja pada frekuensi 300 MHz - 300 GHz. Sinyal ini menggunakan metoda unicast atau point to point. Sinyal ini terbagi 2 jenis yaitu terrestrial dan satellite microwave. Keuntungan dari menggunakan media ini adalah memungkinkan untuk melakukan komunikasi point to point maupun broadcast. Namun adapula kekurangannya yaitu peralatannya mahal, harus dalam keadaan LoS (Line of Sight atau transmisi data dalam keadaan lurus, tidak terpantul, dan tanpa halangan), memiliki prinsip athmospheric attenuation (performa dipengaruhi oleh cuaca), kemudian adanya propagation delay.
Infrared, yaitu sinyal yang dapat digunakan untuk
Radio Wave, yaitu sinyal wireless yang bekerja pada frekuensi 10 KHz - 1 GHz (radio frekuensi). Sinyal ini bekerja dengan metoda multicast (broadcast termasuk didalamnya) atau dengan skema one to many ataupun point to multipoint. Keuntungan dari menggunakan radiowave adalah tidak berkabel (tentunya), murah, dan fleksibel. Namun adapula kekurangannya yaitu adanya kemungkinan pencurian data, noise, kemudian range yang terbatas dibanding media wireless lainnya.
Micro Wave, yaitu sinyal yang bekerja pada frekuensi 300 MHz - 300 GHz. Sinyal ini menggunakan metoda unicast atau point to point. Sinyal ini terbagi 2 jenis yaitu terrestrial dan satellite microwave. Keuntungan dari menggunakan media ini adalah memungkinkan untuk melakukan komunikasi point to point maupun broadcast. Namun adapula kekurangannya yaitu peralatannya mahal, harus dalam keadaan LoS (Line of Sight atau transmisi data dalam keadaan lurus, tidak terpantul, dan tanpa halangan), memiliki prinsip athmospheric attenuation (performa dipengaruhi oleh cuaca), kemudian adanya propagation delay.
Infrared, yaitu sinyal yang dapat digunakan untuk
Senin, 19 Desember 2011
Jaringan Komputer
Jaringan komputer adalah “dua atau lebih komputer yang saling terhubung satu sama lain, dengan tujuan untuk bertukar informasi (data, resource, aplikasi) dan terhubung melalui media (wire atau wireless) dan didukung dengan adanya aplikasi jaringan”. Dari definisi yang dipaparkan tersebut, dapat ditarik kesimpulan bahwa dalam sebuah jaringan komputer harus ada dua komputer atau lebih yang terkoneksi untuk bertukar informasi baik itu berupa data, resource (disk space), maupun aplikasi, kemudian terhubung dengan media transmisi berupa kabel maupun non-kabel dan adanya software jaringan seperti Network OS.
Jaringan komputer diklasifikasikan dalam beberapa aspek antara lain jaringan komputer berdasarkan koneksi (keterhubungan), skala (ukuran), topologi, protocol, dan arsitektur. Berikut uraian singkat mengenai klasifikasi jaringan komputer.
Jaringan Komputer berdasarkan Koneksi :
Jaringan komputer diklasifikasikan dalam beberapa aspek antara lain jaringan komputer berdasarkan koneksi (keterhubungan), skala (ukuran), topologi, protocol, dan arsitektur. Berikut uraian singkat mengenai klasifikasi jaringan komputer.
Jaringan Komputer berdasarkan Koneksi :
- Broadcast Links (multipoint), yaitu jaringan yang menggambarkan bahwa sebuah komputer terhubung secara broadcast atau terkoneksi ke seluruh host yang ada dalam jaringan tersebut.
- Point to Point Links, yaitu
Topologi Jaringan
Topologi jaringan atau network topology merupakan bentuk atau skema bagaimana komputer-komputer saling terhubung dalam sebuah jaringan komputer. Topologi terbagi menjadi 2 jenis, yaitu :
Pada pembahasan kali ini hanya akan membahas mengenai topologi fisik. Berdasarkan bagan di atas, topologi fisik dibedakan menjadi topologi dasar dan topologi pengembangan. Ada beberapa topologi dasar yang ada saat ini, antara lain
- Topologi fisik atau physical topology, yaitu gambaran bagaimana komputer dan komponen-komponen jaringan digunakan atau dipasang sehingga dapat terhubung satu sama lain.
- Topologi logika atau logical topology, yaitu gambaran bagaimana data dialirkan sehingga dapat mencapai tujuan pengiriman. Dalam hal ini merupakan metoda akses. Untuk melihat informasi mengenai metoda akses, klik disini.
Pada pembahasan kali ini hanya akan membahas mengenai topologi fisik. Berdasarkan bagan di atas, topologi fisik dibedakan menjadi topologi dasar dan topologi pengembangan. Ada beberapa topologi dasar yang ada saat ini, antara lain
Langganan:
Postingan (Atom)

