Setelah sebelumnya saya telah menyampaikan contoh penerapan personal firewall, kali ini saya akan menyampaikan mengenai contoh penerapan network firewall menggunakan utility IPTABLES pada sistem operasi Ubuntu Server.
Objek yang saya gunakan kali ini sama dengan objek pada personal firewall yaitu ICMP, namun perbedaannya, kali ini saya membuat sebuah skenario sederhana yaitu 2 buah PC yang berbeda network dihubungkan dengan sebuah router. Dalam hal ini router membuat sistem pengamanan bahwa PC 1 tidak dapat melakukan koneksi ICMP ke PC 2. Perhatikan topologi berikut :
Untuk menjalankan skenario tersebut, lakukan langkah-langkah
Senin, 30 April 2012
Implementasi Personal Firewall (Packet Filtering)
Pada posting kali ini saya akan menyampaikan mengenai contoh sederhana penerapan personal firewall pada sistem operasi Linux Ubuntu Server dengan menggunakan utility IPTABLES.
Dalam hal ini saya akan membuat skenario antara 2 PC yang saling terkoneksi dan pada salah satu PC dibuat sebuah sistem keamanan berupa pengamanan dari koneksi ICMP (salah satu contohnya adalah penggunaan perintah ping). Perhatikan topologi berikut :
Dalam hal ini saya membuat sebuah skenario sederhana yaitu PC 2 tidak dapat melakukan koneksi ICMP ke PC 1. Untuk menjalankan skenario tersebut lakukan
Dalam hal ini saya akan membuat skenario antara 2 PC yang saling terkoneksi dan pada salah satu PC dibuat sebuah sistem keamanan berupa pengamanan dari koneksi ICMP (salah satu contohnya adalah penggunaan perintah ping). Perhatikan topologi berikut :
Dalam hal ini saya membuat sebuah skenario sederhana yaitu PC 2 tidak dapat melakukan koneksi ICMP ke PC 1. Untuk menjalankan skenario tersebut lakukan
Selasa, 10 April 2012
Penggunaan Form pada HTML
Form adalah salah satu elemen HTML yang sangat sering dijumpai bagi anda pengguna layanan internet. Hampir seluruh halaman web yang anda kunjungi mengandung unsur form didalamnya. Form dapat ditemukan pada halaman web yang memiliki fungsi komunikasi, bukan hanya komunikasi antar pengguna internet seperti chatting, social network, dan email, tetapi juga komunikasi antara pengguna internet dengan web server seperti format pendaftaran untuk membuat account sebuah situs. Saat seseorang hendak membuat account sebuah situs, dia memberikan informasi kepada web server yang biasanya berupa identitas diri. Identitas tersebut diinputkan melalui form kemudian dikirim ke database web server.
Jadi, form biasanya digunakan untuk halaman web yang bersifat dinamis sehingga memungkinkan terjadinya komunikasi antara user dengan web server atau user lain. Form memungkinkan suatu web server untuk menerima informasi dari user melalui sejumlah elemen kontrol. Elemen kontrol yang dapat digunakan untuk membuat form yaitu :
Jadi, form biasanya digunakan untuk halaman web yang bersifat dinamis sehingga memungkinkan terjadinya komunikasi antara user dengan web server atau user lain. Form memungkinkan suatu web server untuk menerima informasi dari user melalui sejumlah elemen kontrol. Elemen kontrol yang dapat digunakan untuk membuat form yaitu :
- Teks baris tunggal
- Teks baris jamak
- Teks password
- Tombol submit dan reset
- Checkbox
- Radio button
- Menu pop-up
Rabu, 14 Maret 2012
Konfigurasi DHCP Server (pada Ubuntu)
Setelah sebelumnya saya membahas mengenai definisi dan keterangan lain mengenai DHCP, maka pada kesempatan ini saya akan menjelaskan mengenai cara konfigurasi DHCP Server pada sistem operasi Linux Ubuntu.
Untuk menjadikan sebuah PC dengan OS Linux Ubuntu (versi desktop maupun server) sebagai DHCP Server, maka pada sistem tersebut harus tersedia package dhcp3-server. Sebelum membuat setting DHCP Server, download terlebih dahulu package tersebut di situs pkgs.org kemudian installkan pada sistem anda. Untuk melakukan penginstalan yang lebih mudah, buka terminal (pada Ubuntu desktop) terlebih dahulu lalu ketikkan perintah apt-get install dhcp3-server.
Sebelum melakukan konfigurasi, biasakan diri anda untuk mem-backup data yang akan digunakan untuk konfigurasi DHCP Server. Untuk pembuatan DHCP Server, ada 2 file yang akan di-edit yaitu file /etc/default/dhcp3-server dan juga file /etc/dhcp3/dhcpd.conf. Untuk memback-up kedua file tersebut, gunakan perintah berikut :
Pada posting sebelumnya saya telah menyampaikan bahwa dalam DHCP ada 2 metoda yaitu Address Pool (pemberian dynamic address) dan juga metoda penggunaan MAC Address (pemberian static address). Pertama-tama saya akan menjelaskan langkah-langkah penggunaan
Untuk menjadikan sebuah PC dengan OS Linux Ubuntu (versi desktop maupun server) sebagai DHCP Server, maka pada sistem tersebut harus tersedia package dhcp3-server. Sebelum membuat setting DHCP Server, download terlebih dahulu package tersebut di situs pkgs.org kemudian installkan pada sistem anda. Untuk melakukan penginstalan yang lebih mudah, buka terminal (pada Ubuntu desktop) terlebih dahulu lalu ketikkan perintah apt-get install dhcp3-server.
Sebelum melakukan konfigurasi, biasakan diri anda untuk mem-backup data yang akan digunakan untuk konfigurasi DHCP Server. Untuk pembuatan DHCP Server, ada 2 file yang akan di-edit yaitu file /etc/default/dhcp3-server dan juga file /etc/dhcp3/dhcpd.conf. Untuk memback-up kedua file tersebut, gunakan perintah berikut :
- cp /etc/default/dhcp3-server /etc/default/dhcp3-server_backup
- cp /etc/dhcp3/dhcpd.conf /etc/dhcp3/dhcpd.conf_backup
Pada posting sebelumnya saya telah menyampaikan bahwa dalam DHCP ada 2 metoda yaitu Address Pool (pemberian dynamic address) dan juga metoda penggunaan MAC Address (pemberian static address). Pertama-tama saya akan menjelaskan langkah-langkah penggunaan
DHCP (Dynamic Host Configuration Protocol)
Dynamic Host Configuration Protocol (DHCP) adalah suatu protokol dalam TCP/IP yang secara otomatis memberikan alamat IP pada dynamic client yang memintanya. Selain IP address, DHPC Server juga memberikan konfigurasi lain seperti masking, default gateway, DNS Server, dll. Komputer yang memberikan alamat IP disebut DHCP Server, sedangkan komputer yang meminta alamat IP disebut DHCP Client.
Dalam jaringan yang besar, melakukan pengaturan addressing secara manual akan sangat tidak efektif dan rentan kesalahan. Dengan menggunakan DHCP, pengalamatan akan lebih efektif dan mudah serta dapat meminimalisir kesalahan. Dengan demikian seorang admin jaringan dapat melakukan pengaturan pengalamatan pada jaringan yang dia desain tanpa harus mengkonfigurasi PC satu-per-satu.
Dalam proses permintaan dan pemberian addressing antara DHCP Server dengan DHCP Client ada beberapa tahapan yang perlu dilakukan keduanya. Tahap-tahap tersebut adalah sebagai berikut :
Ada 2 jenis IP address yang dapat disewakan oleh DHCP Server, yaitu dynamic address dan ada juga static address.
Dynamic Address yaitu alamat yang disewakan dengan rentang waktu tertentu sehingga jika pada saat tertentu client mengalami reboot atau restart, maka address yang disewakan sebelumnya tidak berlaku lagi. Saat client hendak meminta address lagi, maka ada kemungkinan address yang di terima adalah IP yang berbeda dari IP yang disewa sebelumnya, namun tidak menutup kemungkinan client tersebut mendapat IP address yang sama dengan yang disewa sebelumnya. Proses pemberian dynamic address ini disebut dengan Address Pool.
Selain dapat memberikan dynamic address, DHCP Server juga dapat memberikan Static Address. Ada beberapa device dalam jaringan komputer yang memang memerlukan IP address yang tetap atau tidak berubah seperti router, printer yang di-share, dll. Pada router biasanya ada setting-an routing pada address yang berbeda network sehingga jika router tersebut mendapat IP address yang selalu berubah akan membuat proses routing menjadi kacau. DHCP Server memiliki fitur untuk mengatasi hal tersebut yaitu dengan mengkonfigurasi specific address untuk MAC address tertentu. Dalam hal ini DHCP Server akan memberikan satu address yang tetap pada device-device yang memang memerlukan static address kapanpun device tersebut memintanya. Untuk dapat melakukannya, DHCP Server memerlukan informasi berupa MAC address dari device yang memerlukan static address.
Dalam jaringan yang besar, melakukan pengaturan addressing secara manual akan sangat tidak efektif dan rentan kesalahan. Dengan menggunakan DHCP, pengalamatan akan lebih efektif dan mudah serta dapat meminimalisir kesalahan. Dengan demikian seorang admin jaringan dapat melakukan pengaturan pengalamatan pada jaringan yang dia desain tanpa harus mengkonfigurasi PC satu-per-satu.
Dalam proses permintaan dan pemberian addressing antara DHCP Server dengan DHCP Client ada beberapa tahapan yang perlu dilakukan keduanya. Tahap-tahap tersebut adalah sebagai berikut :
- DHCPDISCOVER / IP LEAST REQUEST
Client akan mem-broadcast request untuk mencari DHCP Server yang aktif. - DHCPOFFER / IP LEAST OFFER
DHCP Server mendengar request dan menawarkan suatu alamat.
- DHCPREQUEST / IP LEAST SELECTION
Client memilih salah satu IP address dan menyewa IP tersebut dengan kembali mem-broadcast sebuah message yang berisi persetujuan untuk menyewa IP yang ditawarkan.
- DHCPACK / IP LEAST ACKNOWLEDGE
DHCP server merespon permintaan dan mengirim paket acknowledgement yang berisi paket alamat (IP, masking, default gateway, DNS, dll). Client akan melakukan pengikatan (binding) pada alamat yang diberikan.
Ada 2 jenis IP address yang dapat disewakan oleh DHCP Server, yaitu dynamic address dan ada juga static address.
Dynamic Address yaitu alamat yang disewakan dengan rentang waktu tertentu sehingga jika pada saat tertentu client mengalami reboot atau restart, maka address yang disewakan sebelumnya tidak berlaku lagi. Saat client hendak meminta address lagi, maka ada kemungkinan address yang di terima adalah IP yang berbeda dari IP yang disewa sebelumnya, namun tidak menutup kemungkinan client tersebut mendapat IP address yang sama dengan yang disewa sebelumnya. Proses pemberian dynamic address ini disebut dengan Address Pool.
Selain dapat memberikan dynamic address, DHCP Server juga dapat memberikan Static Address. Ada beberapa device dalam jaringan komputer yang memang memerlukan IP address yang tetap atau tidak berubah seperti router, printer yang di-share, dll. Pada router biasanya ada setting-an routing pada address yang berbeda network sehingga jika router tersebut mendapat IP address yang selalu berubah akan membuat proses routing menjadi kacau. DHCP Server memiliki fitur untuk mengatasi hal tersebut yaitu dengan mengkonfigurasi specific address untuk MAC address tertentu. Dalam hal ini DHCP Server akan memberikan satu address yang tetap pada device-device yang memang memerlukan static address kapanpun device tersebut memintanya. Untuk dapat melakukannya, DHCP Server memerlukan informasi berupa MAC address dari device yang memerlukan static address.
Langganan:
Postingan (Atom)